TEKNIK OTOMASI INDUSTRI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 1
BAB I
PENJELASAN UMUM
STANDAR KOMPETENSI NASIONAL
1.1. RASIONAL
Era globalisasi dalam lingkup perdagangan bebas antar negara membawa dampak
ganda, di satu sisi era ini membuka kesempatan kerja sama yang seluas-luasnya
antar negara, namun di sisi lain akan terjadi persaingan yang semakin tajam dan
ketat. Oleh sebab itu, tantangan utama di masa mendatang adalah meningkatkan
daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor industri dan sektor jasa
dengan mengandalkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), teknologi dan
manajemen.
Untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu sesuai dengan
tuntutan kebutuhan pasar kerja atau dunia usaha dan industri di era globalisasi ini,
perlu adanya korelasi yang sesuai (link and match) antara dunia usaha/industri
dengan lembaga pendidikan dan pelatihan baik pendidikan formal, informal
maupun yang dikelola oleh industri itu sendiri. Salah satu bentuk korelasi tersebut
adalah pihak dunia usaha/industri harus dapat merumuskan standar kebutuhan
kualifikasi SDM yang diinginkan untuk menjamin kesinambungan usaha atau
industri tersebut. Sedangkan lembaga pendidikan dan pelatihan akan menggunakan
standar tersebut sebagai acuan dalam mengembangkan program dan kurikulum dan
pihak birokrat akan menggunakannya sebagai acuan dalam merumuskan kebijakan
dalam pengembangan SDM secara makro.
Standar kebutuhan kualifikasi SDM tersebut diwujudkan ke dalam Standar
Kompetensi Bidang Keahlian yang merupakan refleksi atas kompetensi yang
diharapkan dimiliki orang-orang atau seseorang yang akan bekerja di bidang
tersebut. Di samping itu standar tersebut harus memiliki ekivalen dan kesetaraan
dengan standar-standar relevan yang berlaku pada sektor industri di negara lain
bahkan berlaku secara internasional.
Sejalan dengan pemikiran di atas, arah kebijakan yang tertuang dalam Renstra
Pendidikan Menengah Kejuruan 2005-2009, telah menempatkan sistem sertifikasi
kompetensi tamatan SMK sebagai bagian dari sistem standarisasi dan sertifikasi
kompetensi/profesi dalam kerangka Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 2
Badan nasional tersebut telah ditetapkan berdasarkan PP No. 23 tahun 2004
tentang pendirian BNSP dan Penpres No. 92/m tahun 2005 tentang Pengangkatan
Anggota BNSP. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya pada aspek
sertifikasi kompetensi/profesi, badan tersebut akan mendelegasikan
kewenangannya kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) setelah melalui proses
verifikasi dan akreditasi. LSP berwenang melakukan uji kompetensi untuk tujuan
sertifikasi kompetensi/profesi berdasarkan standar kompetensi yang telah
ditetapkan sebagai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) oleh
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Terkait dengan hal tersebut serta posisi Departemen Pendidikan Nasional sebagai
stakeholder Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan sejak 1998 telah berperan aktif dalam penyusunan Standar
Kompetensi. Penyusunan Standar Kompetensi antara lain dilaksanakan dalam
kerangka program kerjasama antara pemerintah Australia dan Indonesia (IAPSD)
dan penyusunan secara mandiri oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional.
Hingga akhir tahun angaran 2004, telah diselesaikan penyusunan Standar
Kompetensi sebanyak 83 (delapan puluh tiga) bidang keahlian. Untuk memenuhi
kebutuhan dan kesesuaian dengan spektrum kurikulum SMK sebanyak 110
bidang/program keahlian maka pada tahun anggaran 2005, Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional menyusun 14 bidang
keahlian yang salah satu di antaranya adalah Standar Kompetensi Bidang Keahlian
Otomasi Industri.
Sejalan dengan pemikiran di atas sejak tahun 1995 Depdikbud bersama dengan
pihak dunia industri dan dunia usaha yang direpresentasikan oleh KADIN
Indonesia (DU/DI), telah membentuk Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional
(MPKN) Salah satu tugas pokok fungsinya adalah memberikan masukan dalam
merumuskan kebijakan pada pengembangan pendidikan menengah kejuruan. Salah
satu bentuk masukan tersebut berupa standar kompetensi bidang keahlian, yang
dalam pelaksnaaannya dilakukan oleh Kelompok Bidang Keahlian (KBK).
Dokumen ini membahas tentang hasil-hasil yang dicapai dalam kegiatan
penyusunan standar kompetensi bidang keahlian Otomasi Industri meliputi:
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 3
– Naskah Standar Kompetensi Bidang Keahlian Otomasi Industri, meliputi
pembahasan tentang pengertian standar kompetensi, struktur standar
kompetensi, format unit kompetensi dan pengembangan standar kompetensi.
– Kualifikasi Keahlian dari Tenaga Operator/Pelaksana, Tenaga Teknisi dan
Ahli, khususnya yang berkaitan dengan pemaketan unit kompetensi dan
sertifikasi.
1.2. TUJUAN
Tujuan dari jasa konsultasi yang diberikan konsultan adalah untuk memperoleh
standar kompetensi bidang keahlian yang memperoleh pengakuan secara nasional.
Untuk memperoleh pengakuan tersebut maka penyusunan/penyempurnaan standar:
1. Dikembangkan berdasar pada kebutuhan industri/dunia usaha, dimaknai
dengan dilakukannya eksplorasi data primer dan sekunder secara komprehensif
2. Menggunakan acuan dan rujukan dari standar-standar sejenis yang
dipergunakan oleh negara lain atau standar internasional, agar di kemudian hari
dapat dilakukan proses saling pengakuan
3. Dilakukan bersama dengan perwakilan dari asosiasi profesi, asosiasi
industri/usaha secara institusional dan asosiasi lembaga pendidikan dan
pelatihan profesi atau para pakar di bidangnya agar memudahkan dalam
pencapaian konsensus dan pemberlakuan secara nasional.
1.3. PENGERTIAN
Berdasarkan terminologi standar kompetensi terbentuk dari dua suku kata, yaitu
standar dan kompetensi. Standar diartikan sebagai ukuran atau patokan yang
disepakati sedangkan kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan atau
kecakapan melakukan suatu pekerjaan. Kompetensi merupakan penambahan dari
kata dasar kompeten yang artinya adalah kemampuan dan kewenangan yang
dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan, yang didasari oleh
pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan unjuk kerja yang ditetapkan.
Didasari dari berbagai referensi yang ada definisi kompetensi ditinjau dari sudut
pengembangan SDM meliputi:
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 4
· A competency refers to an individual’s demonstrated knowledge, skill or
abilities (KSA’s) performed to a specific standard. Competencies are
observable, behavioral acts that requare a combination of KSA’s to execute.
They are demonstrated in a job context and as such, are influenced by an
organization’s culture and work environment. In other words, competencies
consist of a combination of knowledge, skill and abilities that are necessary in
order to perform a major task or function in the work setting.
(JGN consulting Denver, USA)
· Competency models that identify the skills, knowledge and characteristics
needed to perform a job… (D. Lucia dan R. Lepsinger/Preface xiii)
· Competency comprises knowledge and skills and the consistent application of
that knowledge and skills to the standard of performance required in
employment. (Competency standards Body Canberra, 1994)
· Competency is combination of knowledge, skills and abilities to perform them
in the job context which are expected by related industries.
Dari beberapa definisi di atas dapat dirumuskan bahwa kompetensi diartikan
sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas
pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau
tugas dengan standar kinerja (performance) yang ditetapkan.
Standar kompetensi bidang keahlian merupakan refleksi atas kompetensi yang
diharapkan dimiliki orang-orang atau individu perorangan yang akan bekerja di
suatu bidang. Menghadapai arus globalisasi, standar tersebut harus memiliki
ekuivalen dan kesetaraan dengan standar-standar yang memiliki relevansi dan
berlaku pada sektor industri di negara lain serta dapat berlaku secara internasional.
Ditinjau dari sistemnya, Otomasi Industri merupakan integrasi antara sinergi
sistem mekanik, elektronik, komputer dan teknologi informasi untuk memperkecil
biaya dan meningkatkan produksi.
Sedangkan definisi mekatronika menurut Loughborough University adalah:
“Mechatronics is a design philosophy that utilizes a synergistic integration of
Mechanics, Electronics and Computer Technology (or IT) to produce enhanced
products, processes or systems.”
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 5
Otomasi, merupakan teknik yang digunakan untuk memperkecil biaya dan
meningkatkan kualitas.
Otomasi Industri, merupakan teknik yang digunakan oleh industri untuk
memperkecil biaya produksi dan meningkatkan kualitas serta kuantitas produksi.
Masyarakat Pendidikan/Pelatihan, adalah masyarakat yang menyelenggarakan
pendidikan/pelatihan pada pengembangan kompetensi, baik formal maupun
informal untuk bidang-bidang keahlian.
Masyarakat Industri, adalah masyarakat yang menggunakan tenaga kerja yang
memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidang keahliannya.
Asosiasi Profesi, adalah lembaga/institusi yang dapat mengeluarkan sertifikat
kompetensi untuk bidang-bidang keahlian tertentu di industri.
1.4. STRUKTUR STANDAR KOMPETENSI
Struktur Standar kompetensi model Regional Model of Competencies Standards
pada setiap standar Kompetensi minimal memuat unsur-unsur sebagai berikut:
· Kode Unit
· Judul Unit
· Deskripsi Unit
· Elemen Kompetensi
· Kriteria Unjuk Kerja
· Batasan Variabel
· Panduan Penilaian
· Kompetensi Kunci
KODE UNIT,
Kode Unit dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengelolaannya.
Kode Unit ini terdiri dari beberapa huruf dan angka yang mengacu pada
Kepmenakertrans No. Kep-69/Men/III/V/2004 Tentang Perubahan Lampiran
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep.227/Men/2003
Tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional.
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 6
JUDUL UNIT,
Judul memberikan penjelasan umum tentang pekerjaan yang harus dilakukan di
tempat kerja atau menjelaskan suatu pekerjaan yang akan dilakukan.
Judul ditulis dengan mengarah pada hasil yang ingin dicapai dan harus ditulis
singkat, jelas dan menggunakan kata kerja aktif.
DESKRIPSI UNIT,
Penjelasan singkat tentang unit tersebut berkaitan dengan pekerjaan yang akan
dilakukan.
ELEMEN KOMPETENSI,
Elemen kompetensi merupakan dasar pembentukan bangunan Unit Kompetensi
atau merupakan unsur/aspek utama yang dibutuhkan untuk tercapainya unit
kompetensi tersebut.
KRITERIA UNJUK KERJA,
Pernyataan yang mengidentifikasikan hasil akhir yang perlu dinilai, jika unit
kompetensi tersebut telah dicapai. Kriteria Unjuk Kerja (KUK) menunjukan
Pengetahuan, Keterampilan dan Etika kerja. KUK dituangkan dalam kalimat
pasif yang mengarah pada pembendaan (kata benda).
KUK ini merupakan standar unjuk kerja untuk setiap elemen/sub kompetensi.
BATASAN VARIABEL
Batasan variable berhubungan dengan ruang lingkup, situasi dan kondisi
dimana kriteria unjuk kerja diterapkan. Mendefinisikan situasi dari unit dan
memberikan informasi lebih jauh tentang tingkat otonomi perlengkapan dan
materi yang mungkin digunakan dan mengacu pada syarat-syarat yang
ditetapkan, termasuk peraturan dan produk atau jasa yang dihasilkan.
PANDUAN PENILAIAN,
Acuan penilaian/Indikator kompetensi berhubungan dengan unit kompetensi
secara terpadu dan memberikan panduan tentang interpretasi standar dan
penilaian terhadap standar kompetensi. Indikator kompetensi dapat
memberikan:
· aspek dari kompetensi yang perlu diberikan tekanan pada saat penilaian;
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 7
· penilaian apa yang perlu dilakukan bersamaan;
· pengetahuan yang diperlukan terkait dan mendukung tercapainya
kompetensi tersebut;
· menjelaskan tentang metoda penilaian;
· kompetensi kunci.
LEVEL KOMPETENSI,
Level kompetensi dimaksudkan sebagai pengelompokan tingkat kemampuan
dalam menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan berdasar pada tingkat kesulitan dan
atau kompleksitas pekerjaan.
1.5. SKEMA DAN FORMAT STANDAR KOMPETENSI
1.5.1 Skema Standar Kompetensi
Gambar. 1.1 Skema Standar Kompetensi
BIDANG KEAHLIAN
ATAU PEKERJAAN
UNIT-UNIT
KOMPETENSI
ELEMEN
KOMPETENSI
KRITERIA UNJUK
KERJA
KUALIFIKASI
BATASAN
VARIABEL
LEVEL KOMPETENSI KUNCI
PANDUAN
PENILAIAN
PANDUAN PENILAIAN
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 8
1.5.2 Bentuk Format Unit Standar Kompetensi
Kode Unit:
Terdiri dari beberapa huruf dan angka yang disepakati oleh para pengembang dan
Industri/ Usaha terkait dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelolaan.
(merujuk pada Kepmenakertrans No. KEP-227 / MEN / 2003 tanggal 13 Oktober 2003
dan Kepmenakertrans No. 69/MEN// V / 2004 )
XXX . XX 00 . 000 . 00
Sektor Sub sektor Bidang/Grup Nomor Unit Versi
Judul Unit:
Merupakan fungsi tugas / pekerjaan yang akan dilakukan, dinyatakan sebagai suatu unit
kompetensi yang menggambarkan sebagian atau keseluruhan standar kompetensi. Judul
unit biasanya menggunakan kalimat aktif yang diawali dengan kata kerja aktif yang
dapat terobservasi.
Deskripsi Unit:
Penjelasan lebih lanjut tentang judul unit yang mendeskripsikan pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan dalam mencapai standar kompetensi.
Elemen Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Mengidentifikasi tugas-tugas yang harus
dikerjakan untuk mencapai kompetensi
berupa pernyataan yang menunjukkan
komponen-komponen pendukung unit
kompetensi.
Menggambarkan kegiatan yang harus
dikerjakan untuk memperagakan kompetensi
di setiap elemen, apa yang harus dikerjakan
pada waktu menilai dan apakah syarat-syarat
dari elemen dipenuhi.
Batasan variabel
Ruang lingkup, situasi dan kondisi dimana kriteria unjuk kerja diterapkan.
Mendefinisikan situasi dari unit dan memberikan informasi lebih jauh tentang tingkat
otonomi perlengkapan dan materi yang mungkin digunakan dan mengacu pada syaratsyarat
yang ditetapkan, termasuk peraturan dan produk atau jasa yang dihasilkan.
Kondisi unjuk kerja
Pelaksanaannya menunjukan hubungan antaa pekerjaan yang dilakukan, mengaitkan
pengetahuan dan kebutuhan industri, memfokuskan apa yang dinilai. Merupakan
informasi dimana unit tersebut akan diberlakukan, serta memuat ketentuan yang menjadi
daasar untuk menentukan parameter Kriteria Unjuk Kerja.
[Peraturan, Kebijakan Standar, SOP, Manual, Peralatan dan Bahan yang dibutuhkan]
Panduan Penilaian
Membantu menginterpretasikan dan menilai unit dengan mengkhususkan petunjuk nyata
yang perlu dikumpulkan, untuk memperagakan kompetensi sesuai tingkat keterampilan
yang digambarkan dalam kriteria unjuk kerja, yang meliputi:
1. Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk seseorang dinyatakan
kompeten pada tingkatan tertentu.
2. Ruang lingkup pengujian menyatakan dimana, bagaimana dan dengan metode apa
pengujian seharusnya dilakukan.
3. Aspek penting dari pengujian menjelaskan hal-hal pokok dari pengujian dan kunci
pokok yang perlu dilihat pada waktu pengujian.
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 9
1.6. KOMPETENSI KUNCI
Keterampilan umum yang diperlukan agar kriteria unjuk kerja tercapai pada
tingkatan kinerja yang dipersyaratkan untuk peran/ fungsi pada suatu pekerjaan.
Komponen kunci meliputi:
No. KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI TINGKAT
1 Mengumpul kan dan mengorganisasikan informasi
2 Mengkomunikasikan ide dan informasi
3 Merencana kan dan mengatur kegiatan
4 Bekerja sama dengan orang lain dan kelompok
5 Menggunakan ide dan teknik matematika
6 Memecahkan persoalan / masalah
7 Menggunakan teknologi
Kompetensi kunci dibagi dalam tiga tingkatan yaitu:
Tingkat 1 harus mampu:
1. melaksanakan proses yang telah ditentukan.
2. menilai mutu berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Tingkat 2 harus mampu:
1. mengelola proses.
2. menentukan kriteria untuk mengevaluasi proses.
Tingkat 3 harus mampu:
1. menentukan prinsip-prinsip dan proses.
2. mengevaluasi dan mengubah bentuk proses.
3. menentukan kriteria untuk mengevaluasi proses.
1.7. KODEFIKASI UNIT KOMPETENSI
Sesuai dengan pengelompokkan bidang oleh Majelis Pendidikan Kejuruan
Nasional (MPKN) maka bidang keahlian Otomasi Industri masuk ke dalam
Kelompok Teknologi dan Industri, sektor Manufaktur.
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 10
Untuk penomoran kode unit dengan mengacu pada Kepmenakertrans No. 69/2004
dan pengelompokkan bidang otomasi industri diperlihatkan pada gambar 3-1.
Kode Unit Terdiri dari kombinasi huruf dan angka yang
memiliki arti khusus sebagai berikut:
Struktur Kode XXX . XX . 00 . 000 . 00
Arti
Angka yang menyatakaan versi
standar kompetensi.
Kombinasi angka untuk nomor
urut unit kompetensi.
Angka yang menyatakan
pengelompokkan bidang/grup unit
komptensi yaitu:
00: Tidak ada grup
01: Kelompok Umum
02: Kelompok Inti
03: Kelompok Pilihan
Kombinasi huruf yang menyatakan
subsektor, untuk sub sektor bidang
Otomasi Industri digunakan OI
Kombinasi huruf yang menyatakan
sektor bidang keahlian, untuk
sektor bidang Manufaktur
digunakan MAN
Gambar 1.2 Sistem Penomoran Unit Kompetensi Bidang Otomasi Industri
Contoh kode unit: MAN.OI.01.001.01
Artinya unit kompetensi sektor Manufaktur sub sektor Otomasi Industri
bidang/grup Kelompok Umum nomor urut 001 versi 01.
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 11
BAB II
PETA UNIT KOMPETENSI
2.1. OTOMASI INDUSTRI DAN MEKATRONIKA
Ditinjau dari sisi teknologi, Otomasi Industri merupakan integrasi antara
teknologi mekatronika, teknologi komputer dan teknologi informasi. Sedangkan
definisi Mekatronika menurut Loughborough University (United Kingdom)
adalah: “Mechatronics is a design philosophy that utilizes a synergistic integration
of Mechanics, Electronics and Computer Technology (or IT) to produce enhanced
products, processes or systems”. Secara lebih spesifik, diagram sistem mekatronika
diperlihatkan pada gambar 2.1 yang merupakan integrasi sinergi antara teknologi
mekanik (mekanik konvensional/elektromekanik), kontrol, elektronik (analog/
digital) dan teknologi informasi. Contoh sistem mekatronika sederhana adalah
mesin pengemasan permen, mesin pengemasan obat dan kosmetik dan mesinmesin
CNC.
Gambar 2.1 Diagram sistem mekatronika
System
Modelling
Sensor
Simulation
Microcontrollers
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 12
Otomasi Industri menurut Prof. Dr. H. Kirrmann dari Pusat Riset EPFL/ABB
Swiss, memiliki hirarki seperti pada gambar 2.2.
Gambar 2.2 Hirarki Otomasi Industri
Sedangkan level otomasi industri diperlihatkan pada gambar 2.3 dengan penjelasan
sebagai berikut:
Administrasi
(Administration)
: Keuangan, sumber daya manusia, dokumentasi dan
perencanaan jangka panjang.
Perusahaan
(Enterprise)
: Menentukan target produksi, merencanakan perusahaan
dan sumber daya, mengkoordinir lokasi berbeda, mengatur
order/pesanan, memprediksi prilaku proses produksi di
masa depan khususnya untuk pemeliharaan peralatan,
menelusuri indikasi kunci keberhasilan untuk kepentingan
optimasi aset.
Rekayasa/Produksi
(Manufacturing)
: Mengatur pelaksanaan, sumber daya, alur kerja,
pengawasan kualitas, jadwal produksi, pemeliharaan,
menyimpan data pabrik dan produk untuk keperluan
proses berikutnya dengan cara yang aman, menelusuri
proses produksi dan produk untuk sistem manajemen dan
Enterprise
Manufacturing Execution
Supervisory Control and Data Acquisition
(SCADA)
G r o u p C o n t r o l
I n d i v i d u a l C o n t r o l
F i e l d
P r i m a r y T e c h n o l o g y
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 13
informasi pabrik (plant information and management
system-PIMS).
Pengawasan
(Supervision
/SCADA)
: Mengawasi lokasi dan produksi, mengoptimalkan,
melaksanakan operasi, visualisasi proses produksi dalam
bentuk panel displai (man-machine interface-MMI),
menyimpan data proses dan membukukan operasi
produksi.
SCADA:
· menampilkan visualisasi proses produksi yang sedang
berlangsung,
· menampilkan dan mencatat setiap kejadian gangguan
dan alarm dalam proses produksi,
· menampilkan tren grafik/data dan menganalisisnya,
· menampilkan dokumen (buku pedoman, katalog, data
inventori dan pakar sistem),
· melaksanakan komunikasi dan sinkronisasi data
dengan divisi lain.
Kendali Grup/Area
(Group/Area
Control)
: Mengendalikan suatu proses produksi antara lain
mengatur aktivitas beberapa unit kontrol proses produksi
dan melakukan penyesuaian parameter operasi (set-point).
Kendali Grup umumnya merupakan sistem kontrol
terdistribusi (distributed control system-DCS).
DCS biasanya mengacu pada suatu infrastruktur perangkat
keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan otomasi
proses produksi yang kadang-kadang dilengkapi juga
dengan MMI untuk pengendalian operasi lokal.
Kendali Unit
(Unit/Sell Control)
: Mengendalikan bagian dari kendali grup antara lain:
· mengukur sampel, melakukan penskalaan, proses dan
kalibrasi,
· mengendalikan proses, set-points dan parameter
operasi,
· urutan perintah operasi, proteksi dan penyambungan.
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 14
Field : Mengakuisisi data (sensor dan aktuator) dan
mentransmisikan data.
Level Field berinteraksi dengan sistem mekanis proses
(primary technology) secara tidak langsung.
M M M x
y
(Manufacturing) Execution
Enterprise
Administration Planning, Statistics, Finaces
Production Planning,
Orders, Purchase
Workflow, Order Tracking,
Resources
Supervisory Control and
Data Acquisiton (SCADA)
Group Control
Unit Control
Field
Sensors and
Actuators
Primary
Technology
5
3
4
1
0
2
LEVEL
Gambar 2.3 Level Otomasi Industri
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Otomasi Industri mencakup semua
aspek yang dibutuhkan suatu industri manufaktur, yaitu mulai dari level-0 sampai
dengan level-5. Otomasi seperti ini umumnya diterapkan pada industri manufaktur
skala besar dengan merk produk seperti, Festo, National Instrument, ABB,
Yokogawa, Good Year, Karakatau Steel, National Panasonic, Schneider, dan
sebagainya. Sedangkan Mekatronika berada dalam lingkup level-0 dan level-1
yang merupakan bagian dari otomasi industri.
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 15
Profesi bidang otomasi industri merupakan profesi yang diperlukan oleh industri
manufaktur. Industri ini dapat digolongkan menjadi dua, yaitu industri
pembuat/vendor sistem otomasi dan industri pemakai sistem otomasi. Bidangbidang
pekerjaan dari kedua jenis industri ini diperlihatkan pada tabel 2-1.
Tabel 2-1: Bidang Pekerjaan Otomasi Industri
Bidang Pekerjaan Industri
Pembuat/Vendor
Industri Pemakai
Perancangan Ö
Pembuatan Ö
Perakitan Ö
Instalasi Ö
Pengujian (Komisioning) Ö
Pengoperasian Ö Ö
Pemeliharaan dan
Perbaikan
Ö Ö
2.2. PENGELOMPOKAN SISTEM OTOMASI INDUSTRI
Sistem Otomasi Industri berdasarkan konfigurasi sistem kontrol, fasilitas dan
cakupan kerjanya dikelompokkan menjadi:
1. Direct Digital Control (DDC)
Pada sistem ini, proses dikontrol langsung oleh kontroler elektronik/komputer.
Sistem ini banyak diterapkan pada pabrik pengolahan dengan mesin proses
sederhana (mesin pengemasan kosmetik, mesin pengolahan kayu, mesin
pengemasan makanan, mesin pengemasan obat dan sebagainya). Pada level
otomasi industri menempati Level-1 (Unit Control/Sell).
2. Distributed Control System (DCS)
Sistem ini menerapkan kontrol terdistribusi, yaitu setiap proses dikontrol oleh
masing-masing local controller. Sedangan masing-masing local controller
tersebut dikendalikan oleh main controller atau supervisory computer. Sistem
ini telah memanfaatkan teknologi jaringan komputer lokal (sering juga
dilengkapi dengan panel MMI untuk memonitor proses) dan banyak dipakai
pada pabrik pengolahan dengan jumlah proses yang banyak dalam satu jalur
produksi (contoh: pabrik pengolahan bahan kimia, pabrik ban, pabrik baja,
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 16
pabrik kertas dan sebagainya). Pada level otomasi industri menempati Level-1
(Group Control).
3. Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) System
Sistem ini dapat dikatakan sebagai DCS yang dilengkapi dengan fasilitas:
– Displai visualisasi proses yang sedang berjalan
– Displai alarm and kejadian untuk gangguan (alarm log, logbook)
– Displai tren data (numerik dan grafik) dinamis dan hasil analisisnya
– Displai handbook, datasheet, inventory, expert system (documentation)
– Komunikasi dan sinkronisasi data dengan kantor pusat.
Pada level otomasi industri menempati Level-2 (SCADA).
2.3. PEMETAAN FUNGSI PEKERJAAN BIDANG OTOMASI INDUSTRI
Area fungsional pekerjaan di bidang Otomasi Industri dibagi atas:
1. Pengoperasian yaitu meliputi fungsi pekerjaan mengoperasikan peralatan dan
sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai spesifikasi operasi yang
dipersyaratkan.
2. Pemeliharaan dan Perbaikan yaitu meliputi fungsi pekerjaan memelihara dan
memperbaiki peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) agar
tetap berada pada kondisi sesuai yang dipersyaratkan dari waktu ke waktu.
3. Perakitan dan Instalasi yaitu meliputi fungsi pekerjaan merakit dan
menginstal peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai
perencanaan.
4. Pengetesan dan Komisioning yaitu meliputi fungsi pekerjaan mengetes, mensetup
dan mengevaluasi performa peralatan dan sistem otomasi industri (hard
dan software) sesuai yang dipersyaratkan dalam perencanaan..
5. Perancangan dan Pembuatan yaitu meliputi fungsi merencanakan dan
merealisasikan peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software)
sesuai spesifikasi yang dipersyaratkan.
Konsepsi dasar yang digunakan dalam pemetaan fungsi pekerjaan di bidang
Otomasi Industri dan unit kompetensi terkait diperlihatkan pada gambar 2.4, 2.5,
dan 2.6. Hasil pemetaan diperlihatkan pada gambar 2.7a dan 2.7b dengan unit-unit
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 17
kompetensi disusun untuk sistem kontrol DDC dan DCS atau untuk Otomasi
Industri: Level-0 dan Level-1.
OTOMASI INDUSTRI
A. INDUSTRI PEMBUAT/VENDOR
1. Perencanaan (Perancangan)
2. Pembangunan
– Perakitan
– Instalasi
– Pengujian
3. Pengoperasian
4. Pemeliharaan
5. Perbaikan
B. INDUSTRI PEMAKAI
1. Pengoperasian
2. Pemeliharaan
3. Perbaikan
Gambar. 2.4 Jenis Pekerjaan di Bidang Otomasi Industri Untuk Kelompok Industri
S ISTEM OTOM A S I IN D U S TR I
S IS TEM KE L IS TRIK AN
S ISTEM PN EUM AT IK
S IS TEM E LEKTR O NIK
S IS TEM HIDRO LIK
S IS TEM M EKANIK
TEKNO LO G I INFO RM AS I
Gambar 2.5 Otomasi Industri Dipandang dari Sistem
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 18
OTOMASI INDUSTRI
Industri pemakai diantaranya :
1. Industri kosmetik
2. Industri pengolahan makanan
dan minuman
3. Industri obat
4. Industri kemasan plastik
5. Industri pengolahan kayu
6. dsb
Industri pemakai diantaranya :
1. Industri baja
2. Industri kimia
3. Industri pembangkit tenaga listrik
4. Industri ban
5. Industri otomotif
6. Industri permesinan dan mekatronika
7. Industri migas
8. Industri komponen listrik dan elektronik
9. dsb
Sistem DDC
DCS / SCADA
Gambar 2.6 Jenis Otomasi Industri dan Industri Pemakainya
OTOMASI INDUSTRI
Area Fungsi
1. Mengatur Sistem
Produksi
Area Fungsi
2. Memproduksi Peralatan
dan Sistem
Gambar 2.7 Area fungsi Otomasi Industri di Industri Manufaktur
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 19
Gambar 2-7a Peta Fungsional Bidang Otomasi Industri sektor Manufaktur untuk kelompok Industri Pemakai (End User)
1.1. Mengoperasikan Sistem
1.2. Memelihara dan Memperbaiki Sistem
1.1.1. Mengoperasikan sistem kelistrikan
1.1.2. Mengoperasikan sistem pneumatik
1.1.3. Mengoperasikan sistem elektronik
1.1.4. Mengoperasikan sistem hidrolik
1.1.5. Mengoperasikan sistem robot (handling system)
1.1.6. Mengoperasikan sistem informasi
1.1.7. Mengoperasikan programmable logic controller, PLC
1.1.8. Mengoperasikan peralatan kelistrikan
1.1.9. Mengoperasikan peralatan pneumatik
1.1.10. Mengoperasikan peralatan elektronik
1.1.11. Mengoperasikan peralatan hidrolik
1.1.12. Memantau dan memelihara lingkungan pekerjaan
1.1.13. Memelihara efektifitas hubungan di tempat kerja
1. MENGATUR SISTEM
PRODUKSI
AREA FUNGSI FUNGSI PEKERJAAN UNIT KOMPETENSI
1.2.1. Memelihara dan memperbaiki sistem kelistrikan
1.2.2. Memelihara dan memperbaiki sistem pneumatik
1.2.3. Memelihara dan memperbaiki sistem elektronik
1.2.4. Memelihara dan memperbaiki sistem hidrolik
1.2.5. Memelihara dan memperbaiki sistem robot
(handling system)
1.2.6. Memelihara dan memperbaiki sistem informasi
1.2.7. Memelihara dan memperbaiki peralatan kelistrikan
1.2.8. Memelihara dan memperbaiki peralatan pneumatik
1.2.9. Memelihara dan memperbaiki peralatan elektronik
1.2.10. Memelihara dan memperbaiki peralatan hidrolik
1.2.11. Memelihara dan men-setup sensor
1.2.12. Memelihara dan memperbaiki mechanical drive dan
mechanical transmission
Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri
DEPDIKNAS RI 20
Gambar 2-7b Peta Fungsional Bidang Otomasi Industri sektor Manufaktur untuk kelompok Industri Pembuat (Vendor)
2.1. Merancang Peralatan dan Sistem 2.4.1. Merencanakan rancangan sistem menyeluruh
2.4.2. Merancang sistem kelistrikan
2.4.3. Merancang sistem pneumatik
2.4.4. Merancang sistem elektronik
2.4.5. Merancang sistem hidrolik
2.4.6. Merancang penepat mekanik
2. MEMPRODUKSI
PERALATAN DAN
SISTEM
2.2. Mengembangkan Software Aplikasi 2.2.1. Merancang diagram alur program software
2.2.2. Menulis program software
2.2.3. Merancang sistem informasi
2.3. Membuat Elemen Mekanik 2.3.1. Mengoperasikan mesin perkakas konvensional
2.3.2. Mengoperasikan permesinan CNC
2.3.3. Membuat penepat mekanik
2.4. Merakit Peralatan dan Sistem 2.4.1. Merakit peralatan dan sistem kelistrikan
2.4.2. Merakit peralatan dan sistem pneumatik
2.4.3. Merakit peralatan dan sistem elektronik
2.4.4. Merakit peralatan dan sistem hidrolik
2.4.5. Merakit penepat mekanik
2.4.6. Menginstal sistem informasi
2.4.7. Mengetes sistem otomasi
2.4.8. Melaksanakan komisioning sistem otomasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: